Analisis Puisi Merdeka Chairil Anwar


MERDEKA (14 Juli 1943)
Karya Chairil Anwar
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
menjadi sumsum dan darah
seharian kukunyah – kumamah
Sedang meradang
segala kurenggut
ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
selama tidak diantara badai
kalah menang
Ah ! Jiwa yang menggapai-gapai
mengapa kalau beranjak dari sini
kucoba dalam mati

Analisis Gaya Bahasa Puisi Merdeka
Sajak-sajak angkatan 45 banyak menggunakan gaya bahasa hiperbola, daripada gaya bahasa yang lain. Sajak “Merdeka” di atas dominan menggunakan gaya bahasa hiperbola hal ini dapat dilihat dari isi puisi tersebut, yaitu:
a) pada bait kedua yang berbunyi: “Aku percaya pada sumpah dan cinta
menjadi sumsum dan darah
seharian kukunyah-kumamah”
b) padat bait ketiga yang berbunyi: “Sedang meradang
segala kurenggut
ikut bayang”
c) pada bait kelima, tepatnya baris pertama yanag berbunyi: “Ah! Jiwa yang menggapai-gapai.
Selain gaya bahasa hiperbola yang dominan dalam sajak di atas, juga terjadi suatu pembandingan keadaan antara bait, 1,2,3 dengan bait 4 dan 5. Hal ini dapat diketahui dengan kata “Tapi kini” yang merupakan kata pembanding keadaan antar bait tersebut.

Comments