Jumat, 23 Oktober 2009

ANALISIS STILISTIKA PUISI-PUISI CHAIRIL ANWAR* Oleh : Hanna**

chairil anwar
Seseorang yang mempunyai rasa seni yang kental akan menggunakan karya seni itu sebagai medium komunikasi untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada pencintanya. Puisi merupakan suatu karya sastra yang banyak digunakan untuk tujuan tersebut di samping karya seni lain. Jenis karya seni ini masing-masing mempunyai ciri untuk mengungkapkan tujuan. Puisi sebagai karya sastra menggunakan bahasa sebagai medium untuk mengungkapkan makna. Makna tersebut diungkapkan melalui sistem tanda yakni tanda-tanda yang punya arti. Bahasa dalam karya sastra merupakan lambang yang punya arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat atau ditentukan oleh konvensi masyarakat.
Pengamatan terhadap puisi melalui pendekatan struktur untuk menghubungkan suatu tulisan dengan pengalaman bahasanya disebut sebagai analisis statistika. (Widdowson, 1997,13334). Sehubungan dengan itu Nababan (1999,43) mengatakan bahwa statistika memberi suatu sarana bagi pelajar sastra untuk mampu memahami sastra dari tinjauan ilmu linguistik, dan ini diharapkan membantu mereka untuk lebih mampu menikmati sastra. Penikmatan terhadap karya sastra tidak bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan struktur. Penikmatan terhadap karya sastra melalui interpretasi keseluruhannya tidak dapat dimulai tanpa pemahaman bagian-bagiannya, tapi interpretasi bagian mengandalkan lebih dahulu pemahaman keseluruhan karya itu (Teeuw 1984, 123). Lebih lanjut ia mengatakan bahwa interpretasi ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas menurut maksud inilah yang disebut sebagai hermeneutika.



B. Charil Anwar dan Karyanya
Chairil Anwar dilahirkan di Medan Sumatra Utara, 26 Juli 1922, meninggal di Jakarta 28 April 1949. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, sastrawan yang oleh H.B. Yassin dinobatkan sebagai Pelopor angkatan 45. Dia mendirikan ’’Gelanggang Seniman Merdeka’’ (1946). Kumpulan puisi penyair yang pernah yang pernah jadi Resktur Ruang budaya, Siasat “Gelanggang’’ dan Gema Suasana ini adalah Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalan (1986), Derai-Derai Cemara (1998). Karya-karya terjemahannya: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948; Andre Gide), Kena Gempur (1951; John Steinbeck). Penerjemahan karya-karyanya ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dilakukan Burton Raffel, Chairil Anwar: Selected Poems (New York: 1963) dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (New York:1970), Liaw Yock-Fang (Singapura: 1974), Walter Karwath, Feur und Asche (Wina: 1978). Karya-karya studi tentang Chairil Anwar antara lain dilakukan oleh: S.U.S. Nababan, A Linguistic Analysis of The Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar (New York: 1976), Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar:the Poet and His Language (Den Haag: 1972).

C. Analisis Beberapa Karyanya (Chairil)
Sebagaimana telah dikemukan di atas bahwa Chairil Anwar adalah salah seorang pelopor angkatan 45 yang banyak menulis karya sastra dengan gayanya sendiri. Gaya pada dasarnya merupakan cara yang digunakan penutur dalam memaparkan gagasan sejalan dengan tujuan dan motif yang melatarbelakanginya. Guna mencapai tujuan dengan berbagai motif tersebut penutur selain secara kreatif menggarap aspek isi tuturannya juga menggarap bentuk perlambangan sebagaimana terwujud dalam system tandasnya dengan harapan dapat mewujudkan paparannya yang hidup dan imajinatif, padat dan kaya, gagasan jernih tapi sublimatis, dan gagasan yang kompleks.
Penggunaan gaya juga diarahkan oleh bentuk karya sastra yang ingin dihasilkan, Puisi misalnya gaya pengolahan gagasan maupun penataan bentuknya berbeda dengan bentuk prosa fiksi. Salah satu yang dimiliki oleh penyair ini adalah kemampuannya pada penggunaan bunyi dalam karya sastranya yang terjadi antara bunyi vokal dan konsnonan. Hal itu dapat dikaji lewat puisi berjudul “Kawanku dan Aku”, karya Chairil Anwar. Kutipan selengkapnya puisi tersebut sebagai berikut.


KAWANKU DAN AKU

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata…?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

Pada puisi diatas, selain dapat ditemukan adanya asonasi, misalnya antara bunyi [a] pada kata hujan dengan [a] pada kata badan, juga dapat ditemukan sejumlah paduan bunyi konsonan. Pada larik pertama puisi di atas, yang berbunyi Kami sama pejalan larut, dapat ditemukan pengulangan bunyi [m] pada kata kami, dan [m] pada kata sama. Selain itu, ditinjau dari hubungan antarlarik, juga dapat ditemukan adanya paduan bunyi [-ut] pada kata larut dan [-ut] pada kata kabut. Bentuk paduan bunyi yang lain pada bait pertama puisi di atas adalah antara bunyi [n] pada kata hujan, dan [n] pada kata badan,pada larik Hujan mengucur badan, maupun pada kata berkakuan dan pelabuhan pada larik Berkakuan di pelabuhan. Paduan bunyi tersebut juga dapat ditemukan pada hubungan suku akhir kata larik ketiga dan keempat.

Paduan bunyi konsonan antara kata-kata dalam satuan larik yang sama lazim disebut aliterasi. Cummings dan Simmons mengemukakan bahwa, Alliteration – the repetition of an initial sound in different words, usually a consonant (Cummings, Michael, 1986:10). Dalam hal ini ada juga yang membatasi paduan bunyi konsonan sebagai aliterasi tersebut hanya pada bunyi konsonan pada awal kata-kata yang berbeda pada satuan larik yang sama. Apabila perulangan bunyi konsonan pada awal kata atau pada awal suku berikutnya disebut aliterasi, perulangan bunyi konsonan pada akhir kata, baik itu diawali oleh bunyi vokal yang sama atau yang berbeda disebut konsonansi. Pada puisi diatas perulangan secara demikian dapat ditemukan pada paduan bunyi [n] pada kata hujan dan [n] pada kata pelabuhan. Cummings dan Simmons dalam hal ini mengemukakan bahwa, Consonance is basically repetition of the end consonant, but with a different vowel and the same, or different (1986: 28) sebagai mana telah disinggung didepan, perulangan bunyi konsonan itu juga dapat ditemukan pada kata berkakuan dan pelabuhan pada larik Berkakuan kapal di Pelabuhan.
Paduan bunyi konsonan yang sama, diawali oleh bunyi vokal yang sama pada akhir larik yang berbeda tetapi berurutan disebut rima. Terdapatnya rima pada puisi diatas misalnya antara [-ut] pada kata larut sebagai kata yang terdapat pada akhir larik Kami sama pejalan larut dengan [-ut] pada kata kabut sebagai kata yang ada pada akhir larik Menembus kabut. Apabila diperhatikan, larik Kami sama pejalan larut dan larik menembus kabut, ada secara berurutan. Paduan bunyi secara demikian juga dapat ditemukan pada paduan [-an] pada kata badan dan pada larik Hujan mengucur badan, dengan [-an] pada berkakuan pada larik Berkakuan kapal di pelabuhan.

Sebutan rima juga dapat dirujukkan pada paduan bunyi vokal dari kata-kata pada akhir larik yang berbeda. Rima secara demikian diistilahkan rima vokal (vowel rhyme). Pada puisi berjudul “Kawanku dan Aku”, rima vokal itu dapat ditemukan pada larik siapa berkata-kata…?/ kawanku hanya rangka saja/ karena dera mengelucak tenaga. Sementara paduan bunyi [I] pada larik Sudah larut sekali, dengan [I] pada larik Dan gerak tak punya arti dapat disebut sebagai rima patah (Zaidan, 1991:117) dibentuk demikian karena paduan bunyi antara bunyi vokal pada larik yang berbeda tersebut diselingi oleh larik yang mengandung bunyi vokal yang berbeda. Larik yang menyelingi adalah Hilang tenggelam segala makna.
Selain kemampuannya dalam penggunaan bunyi Chairil Anwar juga memliki kreasi dalam penggunaan bahasa kias pada puisi.

Kreasi penciptaan karya sastra selain mengutamakan kekhasan juga mengutamakan kebaharuan. Sejumlah ciri pada puisi Goenawan Muhammad misalnya, tidak dapat begitu saja dirapatkan pada puisi-puisi karya Soebagio Sastrowardojo, Rendra, dan lain-lain. Untuk lebih mempertegas kemungkinan perbedaan atau mungkin juga kesamaan ciri antara ciri penggunaan bahasa kias dalam puisi “Expatriate” karya Goenawan Muhammad dengan karya puisi lain dari penyair yang berlainan pula, di bawah ini dilakukan pembahasan bahasa kias dari salah satu puisi Chairil Anwar berjudul “Kawanku dan Aku”. Guna memudahkan pembahasan, puisi tersebut dikutipkan kembali sebagai berikut.
Bertolak dari hasil pembacaan puisi di atas secara keseluruhan dapat diperoleh gambaran bahwa ditinjau dari tautan pendarannya, puisi di atas memilki tiga tautan pendaran. Ketiga tautan pendaran itu ditandai oleh terdapatnya fonem anaforik /t/, /n/, dan /a/. sementara ditinjau dari kemungkinan fokus pembicaraannya, puisi di atas pada intinya berbicara tentang (1) aku dan kawanku sebagai manusia, (ii) perjalan aku dan kawanku dalam menempuh kehidupan, (iii) hubungan antara aku, kawanku, kehidupan dan waktu, dan (iv) makna kehidupan bagi aku/kawanku. Pemahaman butir-butir di atas meskipun baru bersifat umum paling tidak sudah dapat disajikan bahan pemetaan kemungkinan hubungan antara pengiasan pada larik yang satu dengan yang lain, hubungan antara pengiasan tersebut dengan kemungkinan ciri citraan dan gagasan yang dinuansakannya.

Pada bait pertama puisi di atas terdapat larik yang berbunyi Kami sama pejalan larut. Seandainya larik tersebut berbunyi Kami sama-sama pejalan kaki, misalnya, mungkin tidak terlalu memberikan kesan aneh. Akibat terdapatnya kombinasi kata-kata yang aneh tersebut paling tidak pembaca dalam mengambil keputusan bahwa acuan dari Pejalan larut bukan lagi hanya berhubungan dengan apa yang lazim disebut sebagai “pejalan” melainkan juga merujuk pada sesuatu yang tidak dinyatakan secara langsung. Selain itu juga dapat diperoleh gambaran bahwa pada kata pejalan pada dasarnya dapat diartikan sebagai √≥rang yang pekerjaannya “berjalan”. Dengan demikian keseluruhan ciri yang ada pada ‘kami’’ pada dasarnya bisa ada pada pejalan, karena kami pada dasarnya adalah ‘orang’.
Sebaliknya tidak semua orang dapat disebut sebagai “pejalan” sehingga bentuk simbolik pejalan larut dapat ditentukan sebagai salah satu ciri khusus yang diacukan pada ”Aku dan Kawanku”. Dalam konteks keberadaan kami sebagai orang demikian pejalan larut hanya merupakan salah satu ciri yang dijadikan wakil dari keseluruhan ciri yang ada pada kami. Dengan demikian larik Kami sama pejalan larut dapat ditentukan merupakan bentuk bahasa kias metonimi. Dalam hal ini pembaca perlu juga mengajukan pertanyaan menyangkut penggunaan bentuk simbolik larut.

Dinyatakan demikian karena dalam Bahasa Indonesia kata larut dapat mengacu pada waktu, misalnya malam sudah larut, mengacu pada ketiadaan sesuatu, misalnya gula itu sudah larut dalam air. Dalam bentuk lain, kata larut juga dapat berada dalam bentuk Upaya dalam memecahkan masalah itu justru semakin berlarut-larut.
Memang ada kemungkinan pemilihan kata larut tersebut juga didasari oleh kekayaan matra acuannya. Kata larut pada malam sudah larut antara lain dapat menggambarkan suasana sepi, kekosongan ataupun “ngelangut”. Sementara larut dalam gula itu sudah larut dalam air, dapat menggambarkan ketiadaan bentuk, ketidakjelasan eksistensi. Pada kalimat pemecahan masalah itu semakin-makin berlarut-larut menggambarkan ketidakjelasan dan ketidakpastian. Apabila dikembalikan pada keberadaan manusia, bukankah dia bisa saja merasa dirinya hampa, tidak memilki ketidakjelasan eksistensi dan dihadapkan pada segala sesuatu yang tidak pasti?

Kekaburan aspek referensial pada larut yang justru mampu memperkaya nuansa maknanya dapat dibandingkan dengan pemilihan bentuk simbolik memutih pada larik memutih tengah malam dalam puisi “Expatriate”. Hal itu mempertegas penyimpulan bahwa pengayaan gagasan dalam puisi bukan hanya mungkin dilakukan dalam pemanfaatan sebuah citraan, misalnya binatang jalang yang hanya mengacu pada X = binatang yang jalang, melainkan juga ditempuh melalui penggandaan X sehingga bentuk simbolik tersebut bukan hanya mengacu pada X, melainkan bisa X1, X2, X3, dan seterusnya. Kegandaan citraan tersebut lebih lanjut juga menyebabkan kegandaan fokus penuansaan maknanya sekaligus sebagai gagasan yang diimplikasikan. Dengan demikian larik Kami sama dengan pejalan larut dapat ditentukan sebagai sinekdok yang diperkaya melalui pemilihan kata yang dapat menampilkan citraan secara ganda.

Larik menembus kabut juga dapat ditetapkan sebagai bentuk bahasa kias. Dinyatakan demikian karena kabut merupakan sesuatu yang ditempuh kami sebagai pejalan larut. Tidak berbeda dengan penggunaan kabut pada larik pagi tumbuh dalam kabut yang itu juga, yang ditafsirkan bahwa bentuk simbolik kabut pada larik menembus kabut juga berhubungan dengan ‘ketidakjelasan’, dengan ‘misteri’. Perbedaannya, penggunaan bentuk simbolik kabut pada larik tersebut ada dalam konstruksi yang salah satu unsure fungsionalnya dilepaskan. Unsur tersebut adalah kami. Ditinjau dari klasifikasiannya, larik menembus kabut merupakan bentuk metafor.

Pada larik hujan mengucur badan ditemukan adanya hubungan semantis yang tidak lazim karena hujan pada larik tersebut diberi ciri insani.
Pemberian ciri insani pada hujan pada sisi lain juga disertai pengkomposisian badan sebagai obyek. Jika dilihat kenyataannya secara konkret, badan yang dinyatakan dikucuri hujan bisa juga hanya merupakan bagian dari keseluruhan yang merasa dikucuri hujan. Dengan kata lain pada larik tersebut selain ditemukan gejala personifikasi juga ditemukan gejala sinekdok. Guna menyederhanakan penyebutannya, jenis bahasa kias yang terdapat pada larik tersebut adalah bahasa kias campuran.
Antara larik hujan mengucur badan dan berkakuan kapal dipelabuhan terdapat hubungan sebab akibat. Dengan kata lain, berkakuannya kapal dipelabuhan seakan-akan disebabkan oleh hujan mengucur badan. Ditinjau dari objek yang diacu, larik berkakuan kapal di pelabuhan menampilkan citraan ‘kapal’ yang ada di ‘pelabuhan’. Tetapi berbeda dengan kapal di pelabuhan yang hilir mudik, datang dan pergi, kapal tersebut ‘kaku’. Dengan demikian, ‘kapal’ maupun pelabuhan hanya merupakan kiasan dari sesuatu yang tidak dinyatakan secara langsung. Guna menentukan apa yang diperbandingkan dengan kapal maupun pelabuhan, pembaca perlu menghubungkan kembali dengan badan dan larik hujan mengucur badan. Dari hasil penghubungan itu paling tidak dapat memperoleh gambaran bentuk ekspresi ‘x’ yang tidak dapat mengarungi laut karena ‘kaku’.
Dalam hal ini patut disadari bahwa berkakuan yang dikenakan pada kapal merupakan sesuatu yang tidak lazim karena kapal merupakan benda yang tidak bernyawa. Sebab itu bentuk simbolik kaku tidak dapat dimaknai sebagai kata ‘kaku’ pada umumnya. Ditinjau dari hubungannya dengan kata kapal penggunaan bentuk simbolik kaku dapat memberi ciri insani pada kapal. Dengan kata lain, larik tersebut mengandung dua cara pengisian. Yang pertama melalui personifikasi kapal yang diberi ciri bernyawa. Kedua melalui melalui perbandingan antara kapal dan pelabuhan dengan X yang tidak dinyatakan secara langsung. Bentuk perbandingan secara demikian, dapat dikategorikan sebagai metafora terselubung. Dari terdapatnya dua bentuk pengiasan secara demikian, larik tersebut dapat dinyatakan menggunakan bahasa kias ataupun metafor campuran.
Larik darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat merupakan satuan larik yang ditinjau dari cara penulisannya juga berkedudukan sebagai bait. Dalam bahasa Indonesia, kata pekat untuk barang cair yang bernama ‘likat’, ‘kental’, maupun ‘tidak jernih’. Sementara untuk benda lain kata tersebut dapat bermakna ‘keras’, ‘liat’. Penghubungan kata darah dengan salah satu kemungkinan makna denotatifnya pada dasarnya dapat mempertegas kemungkinan makna tersiratnya. Dinyatakan demikian, “kentalnya darah” bagi penutup bahasa Indonesia ada juga yang membayangkannya sebagai ‘kekuatan’. Tetapi dari yang keras? Dalam hal demikian, fonem anaforik /t/ pada pekat dan pedat yang merujuk pada larut dan kabut dapat dijadikan dasar penafsiran. Dihubungkan dengan dua bentuk, simbolik tersebut dapat ditafsirkan bahwa bentuk simbolik pekat patut dimaknai sebagai ‘keras’ dan ‘liat’ yang mengacu pada ‘ketiadaan semangat kehidupan’.
Bertolak dari gambaran seperti diatas dapat diambil kesimpulan bahwa darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat merupakan bentuk bahasa kias. Pada bentuk bahasa kias tersebut, bentuk simbolik darah pada dasarnya hanya mewakili keseluruhan diri ataupun keberadaan aku. Dengan kata lain pada larik tersebut dapat ditemukan bahasa kias sinekdok. Karena pengiasannya dapat juga dinyatakan sebagai bentuk pengiasan pars pro toto, atau sebagian mewakili keseluruhannya.
Penggunaan bentuk simbolik yang dari ciri denotasi maknanya saja sudah bersifat ganda seperti diatas dapat juga dibandingkan dengan penggunaan simbolik putih pada larik memutih tengah malam dalam puisi “Ekspatriate”. Pada bentuk simbolik tersebut, memutih dapat menggambarkan sesuatu yang semula tidak tampak kemudian ‘tampak sebagai sesuatu yang putih’, ’sesuatu yang tidak putih kemudian menjadi putih’, ‘sesuatu yang jelas’, dan lain sebagainya. Apabila pada puisi “Kawanku dan Aku” penyair menggunakan kata dasar, pada puisi “Expartriate” penyair memanfaatkan efeksemantis pemberian imbuhan. Dalam hal ini adalah awalan –me.
Kita kembali pada puisi kawanku dan Aku. Larik siapa berkata-kata dapat ditentukan sebagai apostrof. Sementara larik kawanku hanya rangka saja dapat ditentukan sebagai bentuk bahasa kias. Pada larik tersebut bentuk simbolik rangka secara tidak lansung dapat diperbandingkan ‘mati’, ‘ketiadaan kekuatan hidup’, dan lain sebagainya. Dalam bahasa Indonesia pernyataan tubuhnya tinggal rangka lazim digunakan untuk menggambarkan orang yang sedemikian kurus yang tidak memiliki kekuatan hidup. Bertolak dari gambaran pengertian demikian dapat ditentukan bahwa larik tersebut merupakan bentuk bahasa kias metafora. Sementara pada larik berikutnya, karena derah mengelucak tenaga dapat ditemukan bahasa kias personifikasi. Dinyatakan demikian karena dera sebagai salah satu yang tidak berkesadaran dinyatakan mengelucak.
Larik dia bertanya jam berapa…? Ditinjau dari hubungannya dengan sudah larut sekali dapat ditafsirkan sebagai bentuk bahasa kias. Dinyatakan demikian karena pertanyaan tentang jam lazimnya diikuti jawaban yang merujuk pada angka. Sedangkan pada larik tersebut, jam dihubungkan dengan larut. Pada sisi lain penggunaan dia pada larik tersebut bisa merujuk pada pesona yang tidak hadir secara langsung sebagai bentuk simbolik, kata jam pada larik tersebut pada dasarnya digunakan untuk menyatakan waktu. Dengan demikian pada larik tersebut dapat ditemukan bahasa kias metonimi.
Pada larik sudah larut sekali, kembali dapat ditemukan bentuk simbolik larut tetapi berbeda dengan penggunaan bentuk simbolik larut pada larik kami sama pejalan larut, bentuk simbolik larut pada larik tersebut rujukannya jelas pada “waktu”. Dinyatakan demikian karena larik tersebut merupakan jawaban dari Dia bertanya jam berapa? Tidak berbeda dengan larik sebelumnya larik tersebut juga dapat ditafsirkan bersifat metonimik. Ditafsirkan demikian karena pernyataan sudah larut sekali dapat digunakan untuk menggambarkan “puncak waktu “ketiadaan aktivitas dengan ruang kehidupan. Hal itu dipertegas lewat pengunaan metafora hilang tenggelam segala makna/dan gerak tak punya arti.
Bertolak dari pembahasan di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa gaya pada dasarnya hanya merupakan alat. Sebagai alat gaya dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan bahasa dalam mengekspresikan gagasan maupun berbagai efek emotif, yang ingin dibuahkan penuturnya. Ditinjau dari segi penggunaanya, penggunaan gaya sebagai alat bersifat tetnatitif..Penggunaanya bisa memilih beberapa gaya tertentu dengan mengabaikan kemungkinan penggunaan jenis gaya yang lain. Dari gaya yang digunakan itu pun pengguna bisa mengkreasikan ulang dan memanipulasikannya sesuai dengan gaya dan efek yang dicapai..
Menyangkut hal yang terakhir, antara penyair yang satu dengan yang lain bisa berbeda-beda. Yang paling umum, perbedaan itu merujuk pada kata-kata yang dikombinasikan, bentuk simbolik yang dikreasikan, konstruksi, dan penguntaian bentuk gaya bahasanya dalam untaian secara sintagmatis. Hal itu sebenarnya juga sangat ditentukan oleh karakteristik gagasan, suasana, dan latar ideologis penyairnya. Pada puisi” Kawanku dan Aku” misalnya, latar ideologis itu dicerahi oleh wawasan filsafat tertentu. Dalam hal ini adalah filsafat eksistensi. Sementara pada puisi “Ekspariate” wawasan ideologis itu harus dihubungkan dengan wawasan nilai religiusitas. Sesuai denagan keagamaan penyairnya, nilai religiusitas itu berkaitan dengan keimanan dalam islam.

Kunjungi juga tulisan terkait analis stilistika berikut ini :

1.Analisis Puisi Jakarta Oleh Remmy Silado 
2. Analisis Stilistika Pada Puisi Kepada Peminta-Minta
Poskan Komentar