Analisis Tata Bahasa Kasus

ANALISIS TATA BAHASA KASUS PADA
“ANWAR IBRAHIM PENGGEMAR KERONCONG” OLEH ANT
DALAM BALI POST


BAB I
PENDAHULUAN
Pada sebuah kalimat, tidak semua kata dapat didampingkan dengan kata yang lain. Selain itu, tidak semua kata yang kita tulis dan ucapkan dapat kita jelaskan secara ilmiah; baik itu pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, pragmatis maupun semantis.
Tidak ada aturan yang baku, antara boleh dan tidaknya sebuah kata dipasangkan dengan kata yang lain. Semuanya hanya bertolak pada satu acuan yaitu “bisa diterima atau tidak”, “bisa dipahami atau tidak”. Tidak ada aturan yang baku pada penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi pada suatu kelompok tertentu. Oleh karena itu, jika tuturan itu dapat dimengerti atau jika ujaran itu dapat diterima oleh kelompok tersebut, maka selesailah persoalannya; tidak perlu diperdebatkan lagi.
Namun, pada kenyataannya dalam komunikasi, tidak semua ujaran dapat dipahami atau tidak berterima. Padahal, memiliki struktur kalimat yang benar yang sesuai dengan kaidah-kaidah pemakaian atau pengunaan bahasa. Hal ini menjadi permasalahan baru dalam bidang bahasa. Oleh karena itu, Menurut Fillmore mengajukan sebuah teori yaitu, “Tata bahasa kasus sebagai jawaban atas permasalahan atau persoalan yang tidak dapat diercahkan dalam tata bahasa generatif”.
Menurut Fillmore, (Via Parera, 188:118), “Kasus dalam tata bahasa kasus menunjukkan hubungan semantik-sintaksis antara nomen dan Verbum dalam sebuah kalimat. Lain halnya dengan kasus yang terdapat pada bahasa tradisional yang selalu dihubungkan dengan perubahan morfemis”.


BAB II
ANALISIS
Sesuai apa yang telah djelaskan pada bab sebelumnya bahwa tata bahasa kasus adalah hubungan semantis antara nomen dengan verbum sebagai satu himpunan atau proposisi. Atau lebih mudahnya, ada beberapa ahli yang berpendapat, bahwa tata bahasa kasus adalah sejauh mana sebuah kata dapat menduduki fungsi dalam kalimat sehingga membentuk suatu kegramatikalan yang berterima secara sintaksis maupun semantis. Maka dari itu akan dimunculkan beberapa data yang diambil dari “Anwar Ibrahim Penggemar Keroncong” Oleh Ant dalam Bali Post edisi
1. Anwar juga menyanyikan lirik lagu itu
Kata “juga” pada kalimat di atas memiliki kesamaan makna dengan . latas, dapatkah posisi tersebut diubah atau diganti dengan yang lain.
a. Jika diganti Subjeknya
Anwar juga menyanyikan lirik lagu itu
Saya juga menyanyikan lirik lagu itu
Kemarin* juga menyanyikan lirik lagu itu
Kursi* juga menyanyikan lirik lagu itu
Kucing* juga menyanyikan lirik lagu itu
Pada kalimat di atas terlihat jelas bahwa kata, “kemarin/kursi/kucing” tidak dapat menduduki subjek karena tidak berterima
b. Jika diganti Atribut Predikatnya
a. Anwar juga menyanyikan lirik lagu itu
b. Anwar telah menyanyikan lirik lagu itu
c. Anwar segera* menyanyikan lirik lagu itu
d. Anwar akan* menyanyikan lirik lagu itu
e. Anwar minum* menyanyikan lirik lagu itu
Pada kalimat di atas terlihatbahwa kata “segera/akan/minum” tidak berterima.
c. Jika diganti Predikatnya
Anwar juga menyanyikan lirik lagu itu
Anwar juga mendendangkan lirik lagu itu
Anwar juga meminum* lirik lagu itu
Anwar juga menggusur* lirik lagu itu
Anwar juga memukul* lirik lagu itu
Pada kalimat di atas, kata “Meminum/menggusur/memukul” tidak berterima dan tidak dapat mengganti fungsi predikat.
d. Jika diganti Objeknya
Anwar juga menyanyikan lirik lagu itu
Anwar juga menyanyikan masakan* itu
Anwar juga menyanyikan meja* itu
Anwar juga menyanyikan baju* itu
Anwar juga menyanyikan drum* itu
Pada kalimat di atas, kata “Masakan/meja/baju/drum” tidak berterima dan tidak dapat mengganti fungsi predikat.
2. Saya ingin melihat Kali Ciliwung
Kalimat di atas jika diuraikan berdasarkan fungsinya maka akan didapatkan data sebagai berikut; Saya (Subjek), ingin (Atribut predikat), Kali Ciliwung (keterangan tempat)
a. Jika diganti Subjeknya
Saya ingin melihat Kali Ciliwung
Aku ingin melihat Kali Ciliwung
Kami ingin melihat Kali Ciliwung
Gajah* ingin melihat Kali Ciliwung
Hujan* ingin melihat Kali Ciliwung
Pada kalimat di atas kata “Aku/kami” berterima, sedangkan kata “Gajah/Hujan” tidak berterima.
b. Jika diganti atribut Predikatnya
Saya ingin melihat Kali Ciliwung
Saya akan melihat Kali Ciliwung
Saya segera melihat Kali Ciliwung
Saya dengan* melihat Kali Ciliwung
Saya kapan* melihat Kali Ciliwung
Pada kalimat di atas kata “akan/segera” berterima, sedangkan kata “dengan/kapan” tidak berterima.
c. Jika Diganti Objeknya
Saya ingin melihat Kali Ciliwung
Saya ingin melihat Jakarta
Saya ingin melihat Handphone
Saya ingin melihat Suara*
Saya ingin melihat nyanyiannya*
Pada kalimat di atas, kata, “Jakarta/handphone” berterima sedangkan kata “suara/nyanyiannya” tidak berterima


BAB III
KESIMPULAN
Dalam bab ini akan diajukan beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari analisis di atas dengan tujuan agar makalah ini dapat lebih dipahami dengan mudah. Adaunkesimpulan yang dapat ditarik dari beberapa data yang telah di analisis adalah;
1. Dapat diterimanya kata atau tidak itu ebrgantung kepada sintaksis dan semantis. Ada yang berterima secara sintaksis yang memenuhi unsure-unsur fungsi, tetapi ada juga yang berterima secara kedua-keduanya. Maupun sebaliknya yaitu tidak berterima sama sekali
2. Dalam “Anwar Ibrahim Penggemar Keroncong” ini dari datayang diajukan, banyak sekali yang tidak logis secara semantis. Hal itu menunjukkan bahwa tidak semua kata dapat digunakan dalam sebuah kalimat.


DAFTAR PUSTAKA
Ant. “Anwar Ibrahim Penggemar Keroncong”. Bali post edisi
Parera, J. Daniel.1988. Sintaksis. Jakarta: Gramedia

Comments

Anonymous said…
di mana analisis kasusnya??
Yang Anda paparkan hanya subtitusi gatra masing-masing fungsi. Yang tampak justru cenderung analisis tata bahasa tradisional ...